Masuk

Ingat Saya

Antara Peperangan dan Perdamaian dalam Islam

Orientalis sering memandang Islam dari aspek negatif. Islam dianggap sebagai agama pedang, agama yang penuh dengan kekerasan dan umatnya suka berperang. Padahal konsep perang dalam Islam hanya sebatas mempertahankan diri dari ancaman dari luar. Untuk itu, terkadang Islam menempatkan umatnya pada posisi bertahan, yakni baru berperang apabila ada musuh yang menyerang. Terkadang pula Islam menempatkan umatnya pada posisi menyerang, yakni lebih dulu menyerang lawan yang telah diyakini memiliki tujuan untuk menghancurkan Islam.

Dr. Samir Aliyah menyebutkan bahwa konsep perdamaian dalam Islam adalah seseorang muslim tidak boleh mengharapkan terjadinya perang atau mengajak perang, bahkan kepada musuh. Musuh yang dimaksudkan di sini adalah kaum musyrikin. Beliau juga mengutip pendapat Dr. Hamid Sulthan, pengarang kitab Ahkam al-Qanun ad-Dauli fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, bahwa perang dalam Islam adalah keadaan darurat yang mengharuskan membela diri secara syar’i.

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Janganlah kamu berharap bertemu dengan musuh dan memohonlah keselamatan kepada Allah. Apabila kamu bertemu dengan mereka maka bersabarlah.” (HR. Muslim)

Islam juga merupakan agama yang memiliki konsep akan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, Allah Yang Maha Esa, dengan panduan al-Quran dan as-Sunnah. Kedamaian dan kesejahteraan umat adalah dasar utama yang diajarkan dalam Islam. Oleh karena itu, pembunuhan, permusuhan, dan perpecahan tanpa alasan yang kuat bukanlah ajaran yang berasal dari agama Islam. Bahkan dalam menyeru manusia kepada Islam, Umat Islam diperintahkan untuk berdakwah dengan jalan yang baik, bukan dengan kekerasan. Hal ini ditegaskan pula dalam Firman Allah Swt:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An Nahl (16) : 125).

Dan dalam ayat yang lainnya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…..” (QS. Ali Imran (3) : 159)

Islam tidak pernah keluar dari dasar ini, yakni perdamaian, kecuali permusuhan yang dimulai dari pihak lain yang mengancam eksistensinya, dalam hal ini dipandang sebagai usaha untuk mempertahankan mempertahankan diri.

Allah Swt berfirman:

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj (22) : 39).

Namun dalam keadaan perang pun, Islam masih tetap menjaga fungsinya sebagai agama rahmatal lil ‘alamin, dalam hal ini Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 190:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah (2) : 190).

Bahkan apabila musuh berhenti memerangi atau condong kepada perdamaian, maka umat Islam diperintahkan untuk menerima perdamaian mereka. Hal ini dapat dilihat pada QS. Al-Anfal (8) : 61 dan QS. An-Nisa’ (4) : 90.

Demikianlah pembahasan mengenai hubungan agama Islam dengan perdamaian.

Dengan